Ia pun beranjak hendak pulang, melangkah ke arah mobilnya dengan lesu. Tapi baru saja kakinya melangkah ke dekat pintu panti asuhan, tiba-tiba seorang anak perempuan kecil menarik tangannya.
“Om mau pulang ya..” “Iya,” jawab sang direktur sambil tersenyum.
“Om..boleh gak Nanda minta sesuatu ke om?” Tanya anak kecil yang bernama Nanda itu. “Boleh, apa?”
“Tapi..Nanda takut gak boleh sama om.”
Sang direktur tersenyum. Ia orang kaya, apa yang tidak bisa dibelinya? Apalagi untuk anak yatim piatu yang manis ini, pastilah permintaannya akan dipenuhi.
“Memangnya Nanda mau minta apa?” tanya sang direktur sambil berjongkok dan memegang bahu Nanda. “Om..Nanda minta.. Nanda pengen manggil ayah ke om, boleh?”
Sang direktur tercengang. Tenggorokannya terasa tersumbat. Sebuah permintaan yang tidak pernah diduganya. Ternyata bukan boneka yang diminta Nanda, bukan juga uang, hanya sebuah sebutan ‘ayah’. Tanpa terasa hatinya bergetar.
“Boleh.. Nanda boleh panggil ayah ke om.” “Terima kasih, ayah. Kapan, ayah datang lagi? Nanda boleh minta lagi ke ayah?”
“Boleh, sayang, Nanda mau minta apa?”
“Nanda minta, kalo ayah datang lagi ke sini, bawa fotonya ayah ya. Nanda mau simpan di kamar Nanda. Kalo Nanda kangen sama ayah, Nanda bisa liat foto ayah.”
Sang direktur pun mengangguk. Dengan berlinang air mata sang direktur memeluk Nanda dan berkata, “Besok ayah datang lagi kesini. Ayah akan bawa foto ayah, dan ayah akan sering kesini ketemu sama Nanda.”
Hati sang direktur sangat bahagia. Ya, ia bahagia sekarang. Ternyata bahagia itu bukan saat kita bisa memiliki segalanya, melainkan saat kita bisa memberi apa yang kita miliki untuk orang lain, meski hanya sebuah ungkapan cinta!
( Sumber : www.selamatpagi.net )
No comments:
Post a Comment